Tugas Ilmu Sosial Dasar

Nama : Ghes Umar

Kelas : 1IA22

NPM : 51409673

“PREDIKSI BURUK TERHADAP ORANG LANJUT USIA

Lanjut usia selalu dikonotasikan sebagai kelompok rentan yang tergantung dan menjadi beban tanggungan baik oleh keluarga, masyarakat dan negara. Jauh hari sudah ada ramalan akan adanya ledakan jumlah lansia di Indonesia yang akan semakin meningkat pada tiap tahunnya. Pada tahun 1971 berjumlah 4,5 juta, ditahun 1990 berjumlah 6,3 juta memasuki tahun 2000 lansia berjumlah 7,2 % dari total penduduk Indonesia dan diramalkan akan berjumlah 11,3 % di tahun 2020. prediksi tersebut mencerminkan bahwa jumlah penduduk lanjut usia merupakan sebuah tantangan dan menjadi PR bersama, namun dalam melihat golongan lanjut usia pada umumnya masyarakat cenderung mendiskreditkan bahkan mendiskriminasikannya.

Dalam momentum ini penulis ingin mengungkap apakah kelompok lanjut usia merupakan beban kelurga, masyarakat, dan Negara ? Berkembangnya asumsi yang mendiskreditkan lansia merupakan bagian dari kesalahan yang terus direproduksi oleh masyarakat. Model berpikir tersebut merupakan salah satu paradigma pikir yag cenderung memposisikan lansia sebagai bagian kelompok masyarakat lemah dan menjadi sub-golongan rentan terhadap pemenuhan haknya. Lebih fatalnya lagi, alokasi anggaran dalam bentuk jaminan dan perlindungan sosial terhadap lansia hanya diartikan suatu program yang sia-sia dan pemborosan anggaran belanja negara.. Banyaknya stereotype terhadap lansia merupakan fakta adanya peminggiran secara langsung terhadap mereka.

Jumlah lanjut usia ditahun 2006 mencapai kurang lebih ± 19 juta menunjukkan bahwa lansia semata-mata bukan menjadi ancaman akan tetapi menjadi modal bagi Indonesia kedepan. Lansia diharapkan dapat mentransformasikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki untuk masyarakat dan negara. Berpijak dari jumlah lansia di Indonesia maka mau tidak mau Indonesia termasuk dalam kategori negara berstruktur penduduk tua (aging struktured population). Hal ini memiliki arti bahwa jumlah penduduk Indonesai bukan lagi berbentuk piramida, dimana komposisi penduduk berusia lanjut prosentasinya lebih sedikit, akan tetapi jumlah penduduk usia lanjut berbanding sama dengan usia balita. Akan tetapi banyaknya jumlah golongan lajut usia tidak semata-mata menjadi boomerang terhadap orientasi kebijakan pembangunan nasional Indonesia. Adanya stereotype yang berkembang dimasyarakat yang menempatkan lanjut usia sebagai beban sosial keluarga, masyarakat dan negara merupakan sebuah cara pikir yang diskriminatif. Beberapa asumsi yag berkembang adalah lanjut usia diidentifikasikan sebagai golongan yang tidak produktif, tergantung, lemah dan kurang mandiri, kesemua itu merupakan bagian dari kekeliruan yang terus direproduksi dan akhirnya menjadi paradigma ukur masyarakat terhadap lansia. Ketimpangan dalam pemahaman terhadap lanjut usia berujung terhadap sikap dan tindakan masyarakat dalam menempatkan lanjut usia dalam aspek sosial, ekonomi dan politik. Secara umum sesat pikir tersebut merupakan sebuah kecacatan dalam memahami golongan lanjut usia.

Dalam perspektif sosio-cultur Indonesia, lanjut usia merupakan golongan yang memiliki peran sosio-politik sangat signifikan. Salah kaprah dalam memandang golongan lanjut usia cenderung akan menjadi sebuah mata rantai yang terus akan direproduksi dan sulit diputus. Oleh karena itu perlu adanya pemahaman yang mendalam hal ini untuk memutus mata rantai ketimpangan penilaian terhadap lanjut usia. Asumsi masyarakat yang menganggap bahwa lanjut usia merupakan golongan yang tidak produktif dan tergantung secara ekonomi merupakan sebuah bentuk kekeliruan dan bahkan menjadi alat diskriminasi yang berujung terhadap peminggiran hak sosio-ekonominya. Dalam faktanya lansia dipedesaan tetap menjadi tulang punggung ekonomi keluraga dan melaksanakan pekerjaan seperti : Tani, petani, nelayan dan lainnya. Disamping secara ekonomi masih produktif mereka masih memiliki kewajiban sosial dimasyarakat. Dalam aspek sosial, bahwa lanjut usia merupakan beban sosial masarakat hal ini juga merupakan bagian dari diskriminasi yang diberikan masyarkat. Seoarang pemimpn pondok pesantren umumnya di Indonesia khususunya di Jawa lebih didominasi oleh para ulama yang memilki usia relatif tua/lansia dan bahakan ada mitos yang berkembang semakin tua seseorang maka akan semakin kharismatik. MERUBAH PARADIGMA USANG Pada dasarnya lanjut usia merupakan manusia pada umumnya. lansia merupakan mahluk bio-psiko-sosial yang memeliki kebutuhan hidup, baik kebutuhan dasar atau dalam aspek sosial dan budayanya. Pada proses pemenuhan kebutuhan hidup lansia terkadang ada sebagian dari mereka kurang mampu secara penuh mengakses kebutuhan hidupnya dan membutuhkan bantuan dari keluraga, masyarakat dan Negara. sebanding dengan sebagian masyarakat lain yang hidup dibawah garis kemiskinan dan membutuhkan campur tangan masyarakat bahkan negara guna memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluar dari rantai kemiskinan.

Permasalahan adalah bagaimana menempatkan lansia dalam porsi yang tepat dan menciptakan kondisi dalam proses penanganan dan pemberdayaan secara manusiawi. Maknanya adalah bagaimana memahami gologan lanjut usia secara utuh baik dalam aspek psikoogis, sosial, ekonomi, politik dan budaya. Kesalahan dalam memahami tersebut pada akhirnya akan menyebabkan kegagapan dalam melihat permasalahan lansia sebenarnya. Adanya modal kultural yang dimiliki oleh masyatakat merupaka sebuah aset yang dapat membantu kita dalam menempatkan golongan lanjut usia dalam porsi yang tepat. Aspek cultural tersebut merupakan bagain dari struktur budaya kita yang menempatkan lanjut usia secara manusiawi. Modal sosial tersebut menjadi bagian yang mesti disinergiskan oleh beberpa aspek lainnya dan stekholder yang ada. Ledakan jumlah lanjut usia merupakan sebuah tantangan yang harus direspon secara sistematis dan terarah. Berdasarkan data Depsos dan BPS 2006 jumlah lanjut usia yang terlantar mencapai ±1,56 juta jiwa. Permasalahan lansia seharusnya di dekati dalam berbagai aspek dan bukan hanya semata-mata menempatkan lansia sebagai penerima program-program sosial akan tetapi perlu menempatkan lansia sebagai subyek program tersebut sehingga akan menyentuh permasalahan sesungguhnya.

Dalam kerangka sebagai subyek, lansia akan dapat menempatkan diri sebagai pelaku aktif yang mampu mendefinisikan kebutuahan dan melihat realitas sosial secara objektif. Paradigma tersebut dapat melihat permasalahan lajut usia dalam perspektif mikro sehingga dapat menyentuh realitas sosial yang dialami oleh mereka. Meminjam istilah Muhamad yunus pemenag nobel perdemaian 2006, bahawa keberhasilan program seharusnya menggunakan perspektif “mata cacing” dimana permasalahan didekati secara mikro sehinggga dapat benar-benar mengakomodir kebutuhan serta menjamin hak mereka. Penaganan lanjut usia bukan semata-mata diberikan kebutuhan dasar akan tetapi lebih kepada pemberdayaan setiap asek baik ekonomi, sosial maupun budaya. Langkah kedepan dalam memamahi kelompok lanjut usia adalah: pertama, mendorong peran sosial bagi kelompok lanjut usia dimasyarakat hal ini untuk memotong paradigma berpikir bahwa lajut usia merupakan beban sosial masyarakat. Kedua, mendorong dan memfasilitasi produktivitas kelompok lanjut usia produktif untuk mewujudkan kemandirian ekonomi bagi para lansia produktif. Ketiga, memberikan ruang serta mendorong lanjut usia untuk mentranformasikan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki dimasyarakat dan negara. Keempat, memberikan kemudahan aksesibilitas bagi lanjut usia terhadap pelayanan publik. Konsepsi pembangunan sosial pada dasarnya adalah sebuah rumusan dalam membaca peta dan problem sosial di Indonesia sehingga negara dapat merencanakan pembangunan secara utuh. Dalam konsepnya, pembangunan sosial adalah solusi terhadap jawaban permasalahan sosial khususnya permasalahan lansia. Pembangunan sosial secara teoritik tidak bertumpu dalam frame satu arah atau negara menjadi pemain tunggal dalam menjamin kesejahteraan warganya. Merujuk amanat konstitusi negara memiliki kewajiban dalam memberikan pelayanan serta menjamin kesejahteraan dan perlindungan sosial bagi warganya, akan tetapi dalam konteks masayarakat yang mengedepankan budaya ketimuran dan mengedepankan partisipasi/gotong royong, masyarakat pada umumnya memiliki kewajiban dalam mengambil partisipasi tersebut. Sinergsitas pemerintah, lembaga swasta. NGO,s dan masyarakat merupakan kunci utama keberhasilan dalam menyelesaikan permasalahan sosial khususanya lansia. Dan pada akhirnya adalah, seandainya kita bukan menjadi solusi terhadap permasalahan yang ada berarti kita adalah bagian dari permasalahan tersebut.!

About ghesumar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: